Selasa, 15 April 2014

Manusia Pertama di Bumi… (Kisah Adam & Hawa)

GambarBAYANGKAN, berada di bumi yang maha luas sendirian. Dan mengetahui sang kekasih juga berada di bumi yang sama, namun entah di belahan mana. Tak ada teman untuk berbincang dan berbagi rasa. Betapa sepinya. Betapa rindunya. Inilah yang dialami Nabi Adam as dan isterinya Hawa ketika pertama kali diturunkan ke bumi, di tempat yang berbeda, terpisah jarak yang sangat jauh. Keadaan ini harus mereka terima dan jalani cukup lama (ada riwayat yang menyebut 500 tahun dan ada yang menyebut 300 tahun, ada juga yang menyebut 40 tahun, tapi ada juga yang menulis hanya 40 hari). Mereka akhirnya bertemu di suatu tempat di bumi yang bernama Jabal Rahmah, Arafah (sekarang Arab Saudi).
Seperti diketahui Allah Swt menciptakan Adam untuk dijadikan sebagai Khalifah di muka bumi, mengelola bumi ini beserta segala isinya. Namun sebelum diturunkan ke bumi, ia ditempatkan di Surga. Saat masih di Surga, Allah Swt juga menciptakan seorang pasangan untuk mendampinginya yang kemudian diberi nama Hawa (QS Al-Baqarah ayat 35). Sebelum diturunkan ke bumi Adam dan Hawa tergoda Iblis melanggar larangan Allah Swt dengan memakan buah Khuldi. Insiden inilah yang akhirnya menjadi sebab keduanya diturunkan ke bumi (QS Al-Baqarah ayat 30 – 39 / QS Al-A’raf ayat 11-25). Lalu Adam dan Hawa menyesali perbuatannya dan bertaubat (menurut riwayat, Adam dan Hawa menangis terus-menerus selama 60 tahun karena ‘terusir’ dari nikmat Syurga yang tidak mereka dapatkan di bumi). Allah Swt kemudian menerima taubat keduanya lalu menunjuk Adam sebagai Rasul-Nya (QS Thaha ayat 122).
.
himalaya1
Nabi Adam diturunkan ke bumi di pegunungan tertinggi saat itu. Dan inilah pegunungan tertinggi di bumi saat ini, Gunung (Pegunungan) Himalaya…
.
Nabi Adam as diturunkan ke bumi terpisah jauh dari isterinya Hawa. Menurut suatu riwayat, Nabi Adam as diturunkan di India, dalam riwayat lain disebutkan di Sri Lanka. Ada juga pendapat bahwa Nabi Adam as diturunkan di gunung tertinggi di dunia, yaitu di Gunung Everest di Himalaya. Mengenai hal ini, karena dahulu kala memang belum ada negara India, Sri Lanka maupun Himalaya, kita sebut saja daerah pengunungan tertinggi di Asia (bukankah India, Sri Lanka dan Himalaya masih termasuk wilayah Asia dan letaknya tidak begitu berjauhan? bisa jadi ketiga tempat ini pada jaman dulu memang masih berada dalam satu wilayah/kesatuan). Sementara Hawa diturunkan di Jeddah, bagian dari kota Makkah (sekarang Arab Saudi). Tapi ada juga yang menyebutkan Hawa diturunkan di tempat yang sekarang bernama Irak. Bisa jadi juga kedua tempat ini, pada jaman dahulu masih merupakan satu kesatuan wilayah.
Setelah saling mencari, dengan petunjuk Allah Swt. dan bimbingan Malaikat Jibril, Nabi Adam as dan Hawa akhirnya bertemu di Jabal Rahmah, di padang Arafah. Bayangkan, bagaimana haru biru dan dahsyatnya pertemuan dua insan manusia pertama yang terjadi di tempat ini. Kesepian dan kerinduan yang terpendam akhirnya terobati. Maka Jabal Rahmah di Arafah jadi tempat bersejarah. Tempat ini merupakan tempat yang istimewa bagi ummat Islam di seluruh dunia yang menunaikan haji karena di tempat inilah dilaksanakan salah satu rukun haji yakni wukuf, tidak ada haji bagi jamaah haji yang tidak melakukan wukuf. Inilah tempat untuk mengenang pertemuan Nabi Adam as dengan Hawa.
.
jabalrahma
Jabal Rahmah di Padang Arafah. Inilah tempat pertemuan Nabi Adam dan Hawa. Ya, di tugu (monumen) itu…
.
Setelah bertemu dengan isterinya Hawa di Jabal Rahmah ini, Nabi Adam as mengajak isterinya ke tempat semula ia diturunkan di bumi dan membina keluarga di tempat ini. Salah satu bukti yang mendukung pendapat ini adalah ditemukannya jejak kaki raksasa di Sri Lanka yang diduga merupakan jejak kaki Nabi Adam as. Menurut riwayat, Nabi Adam as bertubuh setinggi 60 hasta (sekitar 27 meter).
Sosok Nabi Adam as sangat beradab dan memiliki ilmu yang tinggi (QS al-Isra ayat 70 / QS at -Tin ayat 4). Keluarga Nabi Adam dan Hawa melahirkan 20 pasang kembar putra-putri. Anak Nabi Adam as yang sering disebut di antaranya Qabil dan Iqlima, Habil dan Labuda. Saat keempat anaknya ini telah dewasa, Nabi Adam as mendapat petunjuk dari Allah Swt untuk menikahkan anak-anaknya ini secara bersilangan, yaitu Qabil dengan Labuda dan Habil dengan Iqlima. Namun Qabil menolak karena Iqlima lebih rupawan dibanding Labuda.
.
habil-kabil3
Dua putra Nabi Adam. Qabil seorang petani gandum, dan Habil seorang penggembala kambing domba…
.
Atas petunjuk Allah Swt., Nabi Adam as menyuruh kedua putranya untuk berkurban dan barang siapa yang qurbannya diterima, maka dialah yang berhak memilih jodohnya. Habil kemudian mempersembahkan kambing kesayangannya, sedangkan Qabil menyerahkan sekarung gandum yang paling jelek yang dimilikinya. Maka Allah Swt. menerima qurban Habil. Namun Qabil ‘berontak’ dan malah membunuh saudaranya Habil. Inilah peristiwa pembunuhan pertama yang terjadi di bumi. Bagaimana Qabil membunuh Habil? Dan apa yang terjadi pada Qabil setelah membunuh Habil? Baca sejarahnya pada artikel ini: Peristiwa Pembunuhan Pertama di Bumi (Kisah Qabil dan Habil).
Nabi Adam as diperkirakan hidup selama 930 tahun setelah penciptaan (sekitar 3760 – 2830 SM). Menurut hadits, di saat-saat akhir hidupnya Nabi Adam merindukan untuk memakan buah Surga. Ketika anak-anaknya hendak mencari buah Surga, mereka bertemu sejumlah malaikat yang membawa kain kafan, sekop dan cangkul. Para malaikat bertanya, “Wahai anak-anak Adam, apa yang kalian cari? Atau apa yang kalian mau? Dan ke mana kalian pergi?” Mereka menjawab, “Bapak kami sakit, dia ingin makan buah dari surga.” Para malaikat menjawab, “Pulanglah, karena ketetapan untuk bapak kalian telah tiba.” Lalu para malaikat datang. Hawa melihat dan mengenali mereka, dan Nabi Adam berkata kepada Hawa, ’Menjauhlah dariku. Aku pernah melakukan kesalahan karenamu. Biarkan aku dengan malaikat Tuhanku Tabaraka wa Taala… (hadis ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Imam Ahmad, selengkapnya bisa dibaca di sini). [a]
Artikel terkait dan patut dibaca: Nabi Adam as = Manusia Pertama? Ingin tahu benang merah penciptaan manusia dan alam? Klik: Manusia & Alam.  
Referensi: (1) Quran (Surah al-Baqarah, al-A’raf, Thaha, al-Isra, at-Tin; (2) Sejarah Nabi Adam as; (3) Tempat Nabi Adam as Diturunkan; (4) Tempat Nabi Adam as Bertemu Hawa.
 http://rumahsejutaide.wordpress.com/2013/05/24/ratusan-tahun-memendam-rindu-kisah-adam-dan-hawa/

Peristiwa yang aneh dalam Hidup Umar bin Abdul Aziz

Lembaran hidup khalifah yang ahli ibadah, zuhud dan khalifah rasyidin yang kelima ini lebih harum dari aroma misk dan lebih asri dari taman bunga yang indah. Kisah hidup mengagumkan laksana taman  yang harum semerbak, di mana pun Anda singgah di dalamnya yang ada hanyalah suasana yang sejuk di hati, bunga-bunga yang elok dipandang mata dan buah-buahan yang lezat rasanya.
Meski kami tak sanggung memaparkan seluruh perjalanan hidup beliau yang tercatat dalam sejarah, namun tidak menghalangi kami untuk memetik setangkai bunga di dalam tamannya, atau mengambil sebagian cahayanya sebagai lentera. Karena “mala yudraku kulluhu laa yutraku ba’dhuhu”, apa yang tidak bisa diambil seluruhnya janganlah ditinggalkan sebagian yang dapat diambil.
Saya mengajak Anda untuk berbagi cerita tentang Umar bin Abdul Aziz dalam tiga peristiwa. Adapun peristiwa yang lain akan saya lanjutkan pada kitab selanjutnya jika Allah memberi kemudahan, insyaAllah.
Kisah pertama yang mengesankan diriwayatkan oleh Salamah bin Dinar, seorang alim di Madinah, qadhi dan syaikh penduduk Madinah. Beliau menuturkan kisahnya, suatu ketika aku menemui khalifah muslimin Umar bin Abdul Aziz tatkala beliau berada di Khunashirah, tempat pemerahan susu. Sudah lama saya tidak berjumpa dengan beliau. Saya mendapatkan beliau berada di depan pintu. Pertama kali memandang, saya sudah tidak mengenali beliau lagi lantaran banyaknya perubahan fisik pada diri beliau dibandingkan dengan tatkala betemu dengan saya di Madinah. Saat di mana beliau menjadi gubernur di sana. Beliau menyambut kedatanganku dan berkata:
Umar, “Mendekatlah kepadaku wahai Abu Hazim!”
Aku, (Akupun mendekat), “Bukankah Anda amirul mukminin Umar bin Abdul Aziz?”
Umar, “Benar!”
Aku, “Apa yang menyebabkan Anda berubah? Bukankah wajah dahulu tampan? Kulit Anda halus? Hidup serba kecukupan?”
Umar, “Begitulah, aku memang telah berubah!”
Aku, “Lantas apa yang  menyebabkan Anda berubah padahal Anda telah menguasai emas dan perak dan Anda telah diangkat menjadi amirul mukminin?”
Umar, “Memangnya apa yang berubah pada diriku wahai Abu Hazim?”
Aku, “Tubuh begitu kurus dankering, kulit Anda yang menjadi kasar dan wajahmu yang menjadi pucat, bening kedua matamu yang telah redup.”
Tiba-tiba saja beliau menangis dan berkata:
Umar, “Bagaimana halnya jika engkau melihatku setelah tiga hari aku di dalam kubur, mungkin kedua mataku telah melorot di pipiku…perutku telah terburai isinya…ulat-ulat tanah menggrogoti sekujur badanku dengan lahapnya. Sungguh jika engkau  melihatku ketika itu wahai Abu Hazim, tentulah lebih tak mengenaliku lagi dari hari ini. Ingatkah Anda tentang suatu hadits yang pernah Anda bacakan kepadaku sewaktu di Madinah wahai Abu Hazim?”
Aku, “Saya telah menyampaikan banyak hadits wahai amirul mukminin, lantas hadits manakah  yang Anda maksud?”
Umar, “Yakni hadits yang diriwayatka oleh Abu Hurairah.”
Aku, “Benar, aku masih mengingatnya wahai amirul mukminin.”
Umar, “Ulangilah hadits itu untukku, karena saya ingin mendengarnya dari Anda!”
Aku, “Saya telah mendengar Abu Hurairah berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya di hadapan kalian terhampar rintangan yang terjal, sangat berbahaya, tidak ada yang mampu melewatinya dengan selamat melainkan orang  yang kuat’.”
Lalu menangislah Umar dengan tangisan yang mengarukan, saya khawatir jika tangisan itu memecahkan hatinya. Kemudian beliau mengusap air matanya dan menoleh kepadaku seraya berkata, “Apakah Anda sudi menegurkan wahai Abu Hazim bila aku berleha-leha mendaki rintangan yang terjal tersebut sehingga aku berhasil menempuhnya? Karena aku khawatir jika tidak mampu menempuhnya.”
Kisah kedua dalam kehidupan Umar bin Abdul Aziz diangkat sebagai khalifah beliau menulis surat untuk Sulaiman bin Abi As-Sari, gubernur beliau di Shugdi yang isinya, “Buatlah pondok-pondok di negerimu untuk menjamu kaum muslimin. Jika salah seorang diantara mereka lewat, maka jamulah ia sehari semalam, perbaguslah keadaannya dan rawatlah kendaraannya. Jika dia mengeluhkan kesusahan, maka perintahkan pegawaimu untuk menjamunya selama dua hari dan bantulah ia keluar dari kesusahannya. Jika ia tersesat jalan, tidak ada penolong baginya dan tidak ada kendaraan  yang bisa ditunggangi, maka berikanlah kepadanya sesuatu yang menjadi kebutuhannya hingga ia bisa pulang ke tempat asalnya.”
Gubernur Sulaiman segera melaknsanakan titah amirul mukminin. Dia membangun pondok-pondok sebagaimana yang diperintahkan amirul mukminin untuk disediakan bagi kaum muslimin. Lalu berita tersebut tersebar di segala penjuru. Orang-orang di belahan bumi Islam di Barat dan di Timur ramai membicarakannya dan menyebut-nyebut keadilan dan ketakwaan khalifah.
Hingga sampai pula kabar itu kepada penduduk Samarkand. Mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Mereka mendatangi gubernur Sulaiman bin As-Sari dan berkata, “Sesungguhnya pendahulu Anda yang bernama Qutaibah bin Muslim Al-Bahili telah merampas negeri kami tanpa mendakwahi kami terlebih dahulu. Dia tidak sebagaimana yang kalian lakukan –wahai kaum muslimin-  yakni menawarkan pilihan sebelum memerangi. Yang kami tahu, kalian menyeru musuh-musuh agar mau masuk Islam terlebih dahulu. Jika mereka menolak, kalian menyuruh mereka untuk membayar jizyah, jika mereka menolaknya baru kalian memberikan ultimatum perang.
Sekarang, kami melihat keadilan khalifah Anda dan ketakwaannya. Sehingga kami berhasrat untuk mengadukan perlakuan pasukan kalian kepada kami. Dan kami meminta tolong kepada kalian atas apa yang telah dilakukan salah seorang panglima perang kalian terhadap kami. Maka ijinkanlah wahai amir agar salah satu di antara kami melaporkan hal itu kepada khalifah Anda untuk mengadukan kezhalimah yang telah kami rasakan. Jika kami memang memiliki hak untuk itu maka berikanlah untuk kami, namun jika tidak, kami akan pulang kembali ke asal kami.”
Gubernur Sulaiman mengijinkan salah satu di antara mereka menjadi duta untuk menemui khalifah di Damaskus. Ketika utusan tersebut sampai di rumah khalifah dan mengadukan persoalan mereka kepada khalifah muslimin Umar bin Abdul Aziz, maka khalifah menulis surat untuk gubernur Sulaiman bin As-Sari yang antara lain berisi:
“Amma ba’du..Jika surat saya ini tela sampai kepada Anda, maka tunjuklah seorang qadhi untuk penduduk Samarkand yang akan mempelajari aduan mereka. Jika qadhi itu telah memutuskan bahwa kebenaran di pihak mereka, maka perintahkanlah kepada seluruh pasukan kaum muslimin untuk meninggalkan kota mereka. Ajaklah kaum muslimin yang telah tinggal bersama mereka untuk segera kembali ke negeri mereka. Lalu pulihkanlah situasi seperti semula sebagaimana tatkala kita belum memasukinya. Yakni sebelum Qutaibah bin Muslim Al-Bahili masuk ke negeri mereka.”
Sampailah utusan itu kepada Sulaiman lalu dia serahkan surat sarat dari amirul mukminin kepada beliau. Gubernur segera menunjuk seorang qadhi yang terkemuka yang bernama Jumai’ bin Hadhir An-Naaji. Beliau segera mempelajari aduan mereka, beliau meminta agar mereka menceritakan hal ihwal mereka. Juga mendengar kesaksian dari beberapa saksi dari pasukan muslim dan pemuka penduduk Samarkand, maka sang qadhi membenarkan tuduhan penduduk Samarkand dan pengadilan memenangkan pihak mereka.
Sejurus kemudian, gubernur memerintahkan kepada seluruh pasukan kaum muslimin untuk meninggalkan kota Samarkand dan kembali ke markas-markas mereka. Namun tetap bersiap siaga berjihad pada kesempatan yang lain. Mungkin akan kembali memasuki  negeri mereka dengan damai, atau akan mengalahkan mereka dengan peperangan, atau bisa jadi pula bukan takdirnya untuk menaklukkan mereka.
Tatkala para pembesar mendengar keputusan sang qadhi yang memenangkan urusan mereka, masing-masing saling berbisik satu sama lain, “Celaka kalian, kalian telah hidup berdampingan dengan kaum muslimin dan tinggal bersama mereka, sedangkan kalian  mengetahui kepribadian, keadilan dan kejujuran mereka sebagaimana yang kalian lihat, mintalah agar mereka tetap tinggal bersama kita, bergaullah kepada mereka dengan baik, dan berbahagialah kalian tinggal bersama mereka.”
Tinggallah peristiwa yang ketiga yang dialami oleh Umar bin Abdul Aziz. Kisah ini dikisahkan oleh Ibnu Abdil Hakam kepada kita di dalam kitabnya yang berharga “Siirah Umar bin Abdul Aziz” (perjalanan hidup Umar bin Abdul Aziz). Beliau berkata:
“Menjelas wafatnya Umar, masuklah Maslamah bin Abdul Malik dan berkata, ‘Wahai amirul mukminin sesungguhnya Anda melarang anak-anak Anda mendapatkan harta yang ada ini. Maka alangkah baiknya jika Anda mewasiatkan kepadaku atau orang yang Anda percaya di antara keluarga Anda.’ Ketika dia telah selesai berbicara, Umar berkata, “Tolong dudukkanlah saya!” maka mereka pun mendudukkan beliau, lalu beliau berkata, “Sungguh aku  mendengar apa yang Anda katakan wahai Maslamah, adapun perkataanmu  bahwa saya menghalangi anak-anak untuk mendapat bagian harta, maka sebenarnya demi Allah aku tidak menghalangi sesuatu yang menjadi hak mereka. Namun saya tidak berani memberikan harta yang memang bukan  hak mereka. Adapun yang kau katakan, “alangkah baiknya jika Anda mewasiatkan kepadaku atau orang yang Anda percaya di antara keluarga Anda (untuk menanggung) anak-anak Anda”, maka sesungguhnya wasiatku untuk anak-anakku hanyalah Allah yang telah menurunkan Al-Kitab dengan benar, Dia-lah yang melindungi orang-orang shaleh. Ketahuilah wahai Maslamah! Bahwa anak-anakku hanyalah satu diantara dua kemungkinan, apakah dia seorang yang shalih dan bertakwa sehingga Allah akan mencukupi mereka dengan karunia-Nya dan Dia menjadikan jalan keluar bagi kesulitan mereka. Ataukah dia anak durhaka yang berkubang dengan maksiat, sedangkan sekali-kali saya tidak mau menjadi orang yang membantu mereka dengan  harta untuk bermaksiat kepada Allah.” Setelah itu beliau berkata, “Panggillah anak-anakku kemari!”
Maka dipanggillah anak-anak amirul mukminin yang berjumlah belasan anak. Begitu melihat mereka meneteslah air mata beliau seraya berkata, “Aku tinggalkan mereka dalam keadaan miskin tak memiliki apa-apa.” Beliau menangis tanpa bersuara kemudian menoleh ke arah mereka dan berkata, “Wahai anak-anakku, aku telah meninggalkan kepada kalian kebaikan yang banyak. Sesungguhnya ketika kalian melewati seorang muslim atau ahli dzimmah mereka melihat bahwa kalian memiliki hak atas mereka. Wahai anak-anakku, sesungguhnya di hadapan kalian terpampang dua pilihan. Apakah kalian hidup berkecukupan namun ayahmu masuk neraka, ataukah kalian dalam keadaan fakir namun ayahmu masuk surga. Saya percaya bila kalian lebih memilih jika ayah kalian selamat dari neraka daripada kalian hidup kaya raya.”
Beliau memperhatikan mereka dengan pandangan kasih sayang seraya berkata, “Berdirilah kalian, semoga Allah menjaga kalian, berdirilah kalian, semoga Allah melimpahkan rezeki kepada kalian…” Lalu Maslamah menoleh kepada beliau dan berkata:
Maslamah, “Saya memiliki sesuatu yang lebih baik dari itu wahai amirul mukminin!”
Umar, “Apakah itu wahai Maslamah?”
Maslamah, “Saya memiliki 300.000 dinar…saya ingin menghadiahkan kepada Anda lalu bagilah untuk mereka, atau sedekahkanlah jika Anda menghendaki.”
Umar, “Apakah engkau ingin yang lebih baik lagi dari usulmu itu wahai Maslamah?”
Maslamah, “Apakah itu wahai amirul mukminin?”
Umar, “Engkau kembalikan dari siapa barang itu diambil, karena kamu tidak memiliki atas barang tersebut.”
Maka meneteslan air mata Maslamah seraya berkata,
Maslamah, “Semoga Allah merahmati Anda wahai amirul mukminin tatkala hidup ataupun sesudah meninggal… sungguh Anda melunakkan hati yang keras di antara kami, mengingatkan yang lupa di antara kami, Anda akan senantiasa menjadi peringatan bagi kami.”
Sejak peristiwa itu, orang-orang mengikuti berita tentang anak-anak Umar sepeninggal beliau. Maka mereka melihat tak seorang pun di antara mereka yang hidup miskin dan meminta-minta. Sungguh benar firman Allah Ta’ala:
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan  perkataan yang benar.” (An-Nisaa’: 9)
Diadaptasi dari Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, Shuwaru min Hayati at-Tabi’in, atau Mereka Adalah Para Tabi’in, terj. Abu Umar Abdillah (Pustaka At-Tibyan, 2009), hlm. 219-228.
 https://namakugusti.wordpress.com/2010/12/05/peristiwa-menakjubkan-dalam-hidup-umar-bin-abdul-aziz/

Label